curhat ga penting gue

Sabtu, 27 april 2013. hal absurd gue hari ini sampai sekarang 08:39 sih belom ada.. oh ya, td temen2 pda ngajakin ke pasar terapung (banjarmasin). .sumber gambar portalbanjarmasin.com/ :D

Kyknya sih gue ga ikut, males, masa td ada tuh yg bilang “ah gue males ikut, ada si sporter barito (gue), dengan muka sinisnya,” heuhh, tambah ilfil gue sama tuh orang.. rasanya kyk di intimidasi (bener kaga tuh tulisannya) ya kan gue jd males ikut.

Berhubung gue lg ga ada kerjaan, jd sempet-sempetin nulis di blog, dr pd bengong. Ini kok kyk curhat ya wkwk :D

Comeback! Shinee Siap Rilis Mini Album ‘Sherlock

Ghiboo.com – Semenjak mengeluarkan album terakhir bertajuk ‘Lucifer’ di tahun 2010 sampai diakhir 2011,
boyband K-Pop Shinee belum memberikan karya musik
mereka lagi. Kini boyband yang beranggotakan Onew,
Jonghyun, Key, Choi Minho dan Taemin kembali
berkarya, dengan merilis mini album mereka berjudul
‘Sherlock’. Mini album ‘Sherlock’, termasuk mini album Shinee
ke-empat, dan akan berisi tujuh lagu terbaru dari
Shinee. Rencananya album fisik akan mulai di rilis
pada 21 Maret 2012 nanti. Para personil Shinee menganggap bahwa mini album
terbaru mereka akan menjadi mini album ‘world
class’, karena disajikan dengan musik yang
berkualitas, dan penuh totalitas dari setiap
personilnya. Seperti yang dilansir dari allkpop.com, SM
Entertaiment, selaku management pendiri boyband
menyatakan “Mini album ke-4 Shinee akan
menunjukkan perkembangan vokal dan style unik
pada setiap personil. Semua lagu yang ada di album
akan memiliki genre yang beda-beda”. Sebelum dirilis secara album fisik. Mini album
‘Sherlock’ akan dirilis terlebih dahulu dalam bentuk
digital mulai hari ini (19/3). Selain itu, mini album ini
juga akan tersedia di iTunes, untuk fans
Internasional.

Aksi Mahasiswa Kalsel Menolak Kenaikan BBM Mogok Makan, Segel Kantor Pertamina

Gelombang penolakan kenaikan harga BBM terus
“meletus” di Kalsel. Aksi demonstrasi kini tak hanya
sekedar berorasi dan “membajak” truk tangki BBM.
Kemarin (22/3) beberapa mahasiswa melakukan aksi
mogok makan di depan gedung DPRD Kalsel.
Rencananya mereka akan menginap di sana sampai waktu yang belum ditentukan.
Syam Indra Pratama, Banjarmasin
Para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi
Gerakan Mahasiswa Kalimantan Selatan (AGMKS) ini
sebelum melakukan aksi mogok makan, sempat
mendatangi kantor Pertamina sales Area Banjarmasin. Di sana mereka menempelkan kertas
yang bertuliskan “atas nama rakyat, kantor
Pertamina disegel”.
Setelah menyegel kantor Pertamina, mereka lalu
melakukan aksi mendorong sepeda motor hingga ke
gedung DPRD Kalsel. Sampai di depang gedung DPRD Kalsel, mereka lalu menggelar tikar dan menutup
mulut mereka dengan lakban hitam.
Salah satu peserta aksi, mengatakan, aksi mereka
sebagai bentuk keprihatinan mereka atas rencana
kenaikan BBM yang diusulkan pemerintah. Bahkan
pemerintah dinilai acuh dan tak mendengar jeritan rakyat kecil, makanya mereka melakukan mogok
makan dan meminta pemerintah memperhatikan
suara rakyat menolak kenaikan BBM.
“Kami ingin pemerintah membuka mata, bahwa tak
seharusnya subsidi BBM dihapus, kami akan menginap
di sini dan belum memastikan kapan akan mengakhiri aksi ini,” cetusnya.
Selain massa dari AGMKS, kemarin ada dua kelompok
lagi yang menggelar aksi menolak kenaikan harga
BBM, yaitu Pemuda Pancasila kota Banjarmasin dan
beberapa mahasiswa dari Unlam. Inti dari aksi mereka
sama, yaitu menolak kenaikan BBM dan sama-sama menyuarakannya ke DPRD Kalsel.
Ketua Pemuda Pancasila Kota Banjarmasin, Wahyu
mengatakan, pihaknya sudah menyerap aspirasi
masyarakat di beberapa kecamatan di Banjarmasin.
Rata-rata masyarakat menolak kebijakan
pemerintah untuk menaikkan harga BBM hingga Rp 1.500. “Kita menolak usulan kenaikan BBM ini, karena
tak tepat dilaksanakan sekarang. Ditengah
masyarakat masih banyak yang kesusahan,” cetusnya.
Sementara itu, ketua DPRD Kalsel, Nasib Alamsyah
yang menemui para pendemo mengatakan, sepakat
dengan tuntutan para pendemo. Namun ia meminta, aksi demo tidak berjalan anarkis dan tetap damai,
serta tetap menjaga keutuhan NKRI.
“Kita setuju dengan tuntutan para pendemo itu.
Boleh-boleh saja melakukan aksi demonstrasi dan
menyampaikan aspirasi. Namun harus damai dan tak
anarkis, jangan sampai merusak, apalagi membakar fasilitas umum,” tandasnya. (yn/bin)

Sumber: radarbanjarmasin.co.id

gatau judul nya :D

‘Gubrak! Suara yang terdengar dari balik dinding.
Terlihat, sesosok seorang pria terengah-
engah. Ia berjalan berjinjit menuju sebuah
ruangan yang pintunya setengah terbuka.
Sambil melongok pelan, dia menghampiri dia.
“Marsha, elo udah siap?” sambil menenteng sepatu, dada pria itu turun naik, bernafas
kencang.
“Riz, elo ngintip gua yah?”
“Ga, kok,” bantahnya
“Gue cuman ngecek keadaan lo,” Sambil
berjalan menjauh ke luar kamar, Ia tersipu-sipu malu, kemudian ia bergeletak di halaman kamar.
“Trus, kenapa lo manjat-manjat dari belakang
tembok rumah lo?” teriak Marsha
“Kebiasaan tau ga?” geramnya.
“Maaf dech, gua ga ngintip kok,”
Wanita berambut poni menepak tengkuk pria botak, sekonyong-konyong, ceceran
kemarahan tertumpah, “Elo gak liat?”
“Mata gua ditutupin, nih” ujar Rizky, sambil
menunjukkan mata yang ditutupi oleh kedua
tangannya, mungkin menahan sakit atau
menahan malu. “Jangan mentang-mentang lo temen gua dari
kecil ya, lo boleh ngeliat-liat kamar gue!” wajah
Marsha memerah. Seperti kebaya yang
sekarang sedang ia pakai. Sungguh indah
pesonanya, meranum cerah, meski wajahnya
terlipat sinis, tetap saja, wajahnya selalu membuat yang memandang akan kagum.
Pujaannya itu kini berada di belakangnya, yang
tengah terkekeh-kekeh geram menantinya.
“Maaf, non pendek,”
“Gw gak lagi deh kayak gini, janji!” tegas Rizky,
berhadapan. “Ah, dari dulu lo ngomongin itu mulu, janji, janji,
janji, mana buktinya?” kata Marsha. Sambil
meneriakkan kalimat marah murka itu, kedua
tangannya seperti sedang menari piring. Lalu ia
duduk berlipat tangan, menahan wajahnya di
tangan, antara dagu dan dengkul, sambil mendengar kekehan Rizky yang menyebalkan.
“Lo mau buktinya?” tanya Rizky, menahan
tertawa.
“Coba tangan lo kayak tadi!”
Bule itu menyuruh pribumi untuk mengulangi
tangannya yang mengadah, tiba-tiba suruhan itu berbuah liar
“Heheh, nih, buktinya.”
Kemudian, sesuatu yang telah biasa mereka
lakukan sejak kecil terulang, kali ini korbannya
adalah rumput taman yang kuning kehijauan.
Mereka sungguh lincah mengelilingi taman surga, surga bagi yang menyimpan rasa. Surga
dunia itu tak selayaknya surga akhirat, dihiasi
oleh bunga mawar di setiap sudutnya, bunga
melati dan daun sirih merayap di dinding
putihnya, seakan bergelayutan, adam dan hawa
dunia berkelebat cepat, mengganggu dedaunan merambat yang sedang berfotosintesis. Tak
ketinggalan, surga dunia itu juga dilengkapi
lelucon dunia, gelayutan harta karun dari dalam
indra penghendus Rizky, yang terbawa telapak
tangan Marsha.
“Iiih apaan nih?” keluh Marsha, menarik kemeja Rizky, rupanya ia tertangkap.
“Hahaha, itu upil,” jawab Rizky meledek, sambil
mengacungkan telunjuknya ke arah amarah.
“Sialan lo” Wanita itu menarik semua urat
lehernya. Kemudian, tangan Marsha terayun
deras, menghujam sesuatu yang akan menyakitkan.
“Emang enak lo, gua bales,” puas Marsha yang
jijikannya telah berpindah tangan, atau
mungkin dari tangan menuju muka.
“Awas lo ya!!!” Kembali, scene yang mirip film
Bollywood dimulai. Suasana gaduh merajalela, sampai-sampai, orang-orang di rumah kedua
anak konyol itu keluar untuk melihat. Namun,
kakak Marsha-lah yang lebih dahulu memergoki
mereka.
“Woy ada apaan nih!” teriak Charles. Memakai
celana boxer dan kaus singlet, Ia berteriak layaknya polisi di jalanan yang menilang
pengendara sepeda motor.
“Itu, tuh Kak, masa, Marsha dikasih upil, nih liat,”
dengan bangganya, Marsha menunjukkan
pemberian Rizky. Tersentak, Charles
terpeleset. Kaget. “Bego!?”

Mereka berdua merungkuk sambil terengah-
engah, tak ada sepatah kata pun terucap,
hanya kecil putihan gigi terselip di kedua bibir
mereka. Hingga dentang jam klasik membangunkan dunia sadar hawa.
“Enam, tujuh, lapan,” hitungnya pada dentang.
“Wah, Riz, udah jam delapan!” sentak Marsha.
“Trus?”
“Bego lo, kan kita mau wisuda SMA,”
“Oh iye, ayo cepet, noh ada taksi!” Rizky menarik tangan Marsha keluar pagar, kemudian
memberhentikan taksi.
Namun, belum sempat menaiki taksi, ada yang
protes lagi.
“Main megang-megang aja ya, sonoan lo!”
tangan Marsha melempar tangan Rizky, geram. Kemudian, Rizky meminta izin untu membeli
sebungkus tissue.
Tak lama kemudian, Rizky menghampiri taksi.
Taksi hampir berjalan apabila supir tak paham
tingkah laku pemuda sekarang.
“Woy jangan ditinggalin dong!” “Makasih pak!” ujar Rizky, sambil bersandar di
kursi kanan belakang
“Sama-sama dek,” jawab Bapak supir.
Muka Marsha kembali mengkerut, rencanya itu
tak berhasil membuatnya bahagia.
“Emang enak gua kaga jadi ditinggalin, hahahha,” ledek Rizky
“Lagian lo lama banget beli tissuenya, bakal apa
sih?” Rizky tak menjawab, hanya memberikan
sebugkus itu kepada Marsha.

Udara di dalam taksi cukup sejuk, meski begitu, tak membuat mereka berdua reda. Yang satu
masih bahagia dengan kemenangannya, yang
satu lagi masih mendongkol.
“Hahaha, maaf Marsha, gua becanda, kaya baru
kenal aja nih,” cekoteh Rizky. Marsha tetap
mendongkol, berbeda dengan lumpur di timur Pulau Jawa, amarah Marsha terpendam.
Kemudian suasana hening, hanya beraduan
deruan mesin taksi dan mesin bermotor saja
yang berbisik, sesekali klakson liar bersautan.
Tak lama, hening itu bertambah hening.
Keheningan kekaguman mulai terasa. Tatap, menatap, ditatap.
Rizky bisa merasakan sesuatu yang menjadi
kegemarannya sejak dulu. Kegemarannya,
sejak pertama kali ia sadar, ada sesuatu di
hatinya yang harus ia ungkapkan. Meski begitu,
mengungkap perasaan bagi Rizky adalah hal yang sulit. Ia menganggap image-nya terhadap
wanita itu sudah jelek. Namun, Rizky punya ide
lain, yang ia anggap akan berhasil.
“Ngapain lo melototin senyuman gue?” geram
Marsha, yang masih menjatuhkan bibirnya jauh-
jauh. “Ya ampun, Ge-er lo!” Rizky kembali tertawa,
demgan tertawaan yang kini lebih kencang dari
sebelumnya. Lebih kencang, karena di dalam
tertawaan itu, ada tangisan kerinduan yang
dalam.
“Ho, dasar, cewe yang hiperaktif,” ledek Rizky, berusaha melepaskan rasanya.
“Hah, apa lo bilang?” mendengar perkataan yang
menjadi hinaan populer, Marsha bangkit dari
sandarannya. Tangan kecilnya dengan segera
menunjuk-nunjuk hidung Rizky.
“Dasar tiang listrik,” “Eyaaa, udah berani ngomong, gak ngambek
lagi,” rupanya ia tak tersinggung ketika diejek
Marsha. Marsha lalu tersenyum, Rizky pun
tersenyum.
Namun, tak lama, senyuman mereka terhentak
oleh sesuatu. …
Dering dari dalam tas kecil Marsha menunda
senyuman keduanya.
Terlihat tulisan pada layar handphone Marsha,
nama seseorang yang menjadi secret admirer
Marsha, sejak dikenalkan oleh Rizky. “Siapa Marsha?” tanya Rizky.
“Riswan memanggil,” jawab Marsha singkat.
Tangan Marsha diarahkan ke telinganya, belum
sampai menempel, kembali ia cemberut.
“Missed call doank nih temen lo bisanya!”
Buru-buru, Rizky memasukkan handpone kembali ke dalam kantong.
“Mungkin singal-nya ga kuat, hehehe,” bela
Rizky untuk temannya.
“Masa?”
“Katanya Rizwan udah sampai di Jakarta?”
tanya Marsha. “Mungkin kali dalam lift, atau dalam taksi?”
“Bisa aja kan!” bela Rizky lagi.
Meski begitu Marsha tak peduli, ia terus
mendiamkan pembelaan Rizky untuk kawannya.
Yang ia perdulikan hanya bertatap muka dengan
pria Jogja itu, menerima berbagai kegemaran Marsha, yang telah ia ceritakan lewat telefon
maupun sms.
“Tapi dia bener nanti dateng Riz?” tanya
Marsha, penasaran.
“Iya-iya, pasti dia dateng,”
“Awas ya kalo dia gak dateng, gak bakalan kita bertemen lagi!” ancam Marsha.
“Loh kok gitu,”
“Ya iyalah, gue udah berharap banget sama
cowo yang lo jodoh-jodohin ke gua, udah gue
certain seluruh pribadi gua ke dia, kegemaran
gue, bahkan hal-hal yang paling rahasia, yang elo belum tau!” jelas Marsha.
“Pasti dia dateng, lo tenang aja, pasti dia
bakalan sesuai yang elo harapkan,”
“Awas lo yah, pokoknya, kalau tuh cowo
kelakuannya kaya lo, gua gak akan maafin lo,
inget!” nampaknya, ancaman Marsha kali ini sangat serius, saking seriusnya sampai-sampai
suasana di taksi juga semakin serius, Marsha
serius dengan ancamannya, Rizky dengan
komitmennya, supir saksi dengan perutnya.
“Marsha, tapi, gua gak janji dia ganteng,” ujar
Rizky memberikan harapan. “Gak apa-apa, yang penting dia lebih dewasa,
wawasannya luas, dan yang paling penting dia
gak liar kaya lo!”
“Loh, kok liar” kaget Rizky bernada naik.
“Ah lo munafik Marsha!” lanjut Rizky
“Munafik gimana Riz?” “Dimana-mana, cewe tuh nyari cowo yang
ganteng, yang keren, bohong kalo tuh cewe
ngeliat hatinya,” tegas Rizky
“Gua setuju Riz sama pendapat lo, memang
benar, cewe ngeliat cowo dari ampangnya,
begitu juga cowo, tapi begitu naif apabila kita terlalu subjektif menilai cowo kaya gitu, harus
objektif dong!”
“Predikatnya kaga ada?”
“Tuh, lo ga pernah serius kalo gua ajak
ngomong serius, lo mungkin hanya bisa jadi
sahabat gua Riz, ga lebih!” Mendengar pernyataan itu, Rizky cukup
tersentak, bibrnya mengerik lama kelamaan
pucat. Matanya kosong ke wajah Marsha yang
menghadap spion. Luluh hati, lantah asa.
“Kenapa lo pucet?” tanya Marsha yang tiba-tiba
menoleh ke arah Rizky. “Udah kaya ditolak sama cewe aja lo pucet kaya
gitu, ahahaha,” ejek Marsha
“Hah, ditolak sama lo mah kaga ngaruh!” Rizky
membohongi hati. Seperti yang biasa ia lakukan
di keadaan mendesak.
“Sok iye lo!” balas Marsha sambil menoleh ke kiri, melihat jalanan yang dijejali oleh manusia sibuk.
Rizky hanya diam, tak lama tangannya merogoh
saku celana.

Marsha, aku sudah sampai di Jakarta, sekarang
aku lagi ada di rumah tanteku. Oh, iya, aku mau minta alamat tempat wisuda kamu, sms yang
kemarin kamu kirim hilang, maaf ya, bls
Kalimat yang tertulis di layer telefon genggam
Marsha. Setelah membaca itu, Marsha tersipu-
sipu, begitu juga Rizky.
“Ngapa lo nyengar-nyengir?” tanya Marsha, yang keanehan melihat Rizky.
“Hahah, emang dilarang yah?”
“Terserah lo deh!”
Kemudian, Marsha membalas sms itu. Lalu, wajah
lecak manis kembali hadir di bangku belakang
taksi. “Wah, pending lagi,” gerutu Marsha.
“Riz, gua minjem hape lo dong, signal gue jelek
nih,”
“Kaga boleh, hape gua menyimpan rahasia,”
tolak Rizky.
“Ah gaya lo, mana sini!” Marsha berusaha menginvasi Rizky. Sekuat
tenaga, Rizky menahan telefon genggam
milikinya. Melihat mereka berdua di spion depan,
Bapak supir berkomentar pelan
“Dasar anak muda!”
… “Heh, pelit amat sih lo?” “Biarin!” tahan Rizky. “Awas ya, kalo maen ke rumah gua gak bakalan
gua kasih minum!” “Ancemannya kaya penduduk padang pasir lo,
emang dirumah gua gak ada aer?” bela Rizky,
dibarengi tertawaan yang cukup keras. Memang, dengan dalih meminta minum, Rizky
sering berkunjung ke rumah Marsha. Di sana
Rizky terpuaskan menatap keindahan wajah
marsha, lembut pesona marsha, tawa marsha
yang cukup khas. … Antrean kendaraan amat panjang. Lampu lalu
lintas masih marah. Matanya masih terpancar
geram ke semua kendaraan yang seperti ingin
menabraknya. Di bawah kakinya, polisi masih
saja terus melambai-lambaikan tangan. Di
bawah naungan terik, keadaan itu sama saja, lalu lintas tidak lancar. Di dalam taksi biru yang warnanya belum
memudar, Anak muda-anak muda itu masih saling
diam. Rupanya, mereka sudah lelah karena
kejadian sebelum itu. “Hahahahahahahah,” “HAHAHAHAHAHA,” Tiba-tiba, kejadian itu kembali berlanjut. “Pak, bukannya saya menghina ya, bau kentut
bapak ga enak banget!” celoteh Marsha. “HAHAHA, bener pak, hampir-hampir saya
muntah, Hahaha” “Maaf dek, saya gak sengaja, maaf ya,” ujar
Bapak supir sambil menekan-nekan bokongnya
ke atas jok. “Udah pak, keluarin aja semua!” kembali Marsha
berceloteh. Celotehan yang menjadikan
kawan-kawan mereka bertambah yakin bahwa
kepribadian mereka sangat sama. “Hhehe, udah Marsha, jangan lo ingetin lagi,”
pesan Rizky terengah-engah menahan
tertawaan. “Iya, hehehe,” Suasana kembali bersorak ceria, sebaliknya,
Bapak supir menahan malunya yang semakin
malu. “Dek, sudah sampai!” ujar Supir, mengingatkan
mereka berdua. Mereka berdua yang masih saja menahan
tertawa kembali tertawa. “Hhehehe, makasih pak, nih uangnya,” kata
Rizky, sambil menyerahkan eberapa uang
puluhan ribu kepada pak supir. “Sebelumnya maaf ya dek, saya gek bermaksud
seperti itu loh sebenarnya,” “Kami maafkan pak, manusiawi kok yang bapak
lakukan!” ujar Rizky bijak. Mendengar
perkataan Rizky, Marsha menjadi diam
beberapa kalimat. Kemudian, aula mereka masuki bersama. “Sampai jumpa Rizky!” “Iya, hati-hati yah Marsha, o iya, udah siapkan
ketemu anak itu?” “Siap!” balas Marsha singkat. Mereka berpisah, di jalan, Rizky tertawa,
Marsha pun tertawa. “Kena lo!” gerutu mereka bersamaan. …
Kawan-kawan Rizky telah berbaris rapih di
depan pintu masuk aula wisuda. Ada si Udin. Ada
si Ma’ruf yang berpakaian sangat rapi, dan ada
si Joko yang berpakaian cukup sederhana,
namun begitu gagah, maklum calun taruna polisi. Dari mereka bertiga, yang paling menonjol
adalah Udin. Bagaimana tidak? Dengan memakai
kaos merah berbalut jas hitam, Udin sangat
percaya diri memasuki acara resmi sekolah itu.
Memang, Udin dikenal disekolah sebagai orang
yang selalu tampil semaunya sendiri. Pernah, saat upacara di sekolah, Udin memakai seragam
olahraga. Akibatnya dia dihukum guru dengan
cara push-up 100 kali. Hal itu membuat Udin
pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Kemudian,
dengan alasan belum kuat fisiknya, Udin izin
tidak masuk sekolah hingga sebulan penuh. “Din lo udah sembuh,” ujar Rizky, sambil
terkekeh-kekeh.
“Bego ya anda?”
“Anda tidak lihat, gw kemarin UAN?”
“Anda gak liat sekarang gw udah rapi?” bela
Udin, sambil menunjuk-nunjukkan dadanya. “Iya, semuanya gua liat,” balas Rizky.
“Eh Din, by the way nih, sini deketin gua
sebentar, gimana rencana kita?” Rizky
menghampiri Udin perlahan. Sambil melongok-
longok ke arah Marsha yang sedang berbincang
dengan kawan-kawannya, kemudian Rizky merangkul Udin.
“Sorry kawan, gw bukan homo, kalo ga normal,
jangan ngajak-ngajak dong!” bantah Udin
diselingi dengan senyuman kudanya yang cukup
khas,
“Sialan lo, gua mau nanya doank, gimana rencana besar kita?”
“Rencana besar?” tanya udin kebingungan.
“R-E-N-C-A-N-A B-E-S-A-R,” ujar Rizky
seperti menyepellkan (spelling) istilah “rencana
besar”.
“Oh iya ya ya,” sambil menyentakkan tangannya ke tengkuk Rizky, Udin menjawab:
“Oh, gua inget!” ujar Udin keras
“Aduh, inget boleh inget lo, tapi jangan nepok
tengkuk gua dong!”
“Sorry, gua terlalu bersemangat,”
“I-iye, se-e-mangat,” tambah Ma’ruf yang rada gagap, yang ikut bersekonglkol dengan Rizky
untuk suatu hal.

Di dalam ruang aula suasana begitu hening, satu
persatu guru dan orang tua murid masuk.
Dengan rasa bangga karena baru lulus SMA, para murid berdiri dengan tegapnya.
Selesai lagu Indonesia Raya berkumandang,
Udin menghampiri Rizky yang sedang nikmat-
nikmatnya memakan risoles.
“Woy, kawan, bukannya nyanyi Indonesia
Raya, malahan makan?” Ganggu Udin. “Iya Indonesia raya, Rakyat Sengsyara!”
“Widih, macam politikus aja lo?”
“Ga usah dibahas din, gua makan risoles laper,
belum sarapan!” sambil “kepedasan” setelah
memedaskan, Rizky menarik air mineral gelas
dari tangan Udin. “Waduh, ganteng-ganteng rakus ye?”
“Udah-udah, sekarang lo mau ngapain ke sini?”
tanya Rizky
“Katanya R-E-N-C-A-N-A B-E-S-A-R,?” Udin
mengingatkan, sambil mengulang nyepellan
(Spelling) istilah itu. “Oh iye,”
“Lo bawa?” tanya Udin.
“Sebentar yaw,” Rizky kemudian merogoh
kantong saku kemejanya dalam-dalam,
kemudian jasnya, kemudian celana bahan
hitamnya. “Wah, ketinggalan nih kayaknya,” ujar Rizky
kebingungan. Sesuatu yang ia akan jadikan hal
paling berharga dalam hidupnya raib.
“Yah gimana sih, kok ilang?” Udin ikut
memasukkan tangan ke kantong celana Rizky.
“Tpakk” “Ngapain tangan lo ngerogoh kantong gua,”
sambil mengelus kepalanya, Udin berkata.
“Idih, wece’, becanda deh kita!”
“Sakit juga geplakan lu Riz, lo yang salah gua
kena getahnya,” lanjutnya serius.
“Gue inget-inget dulu ye,” “Ya udah lo nginget-nginget dulu, lo taruh
dimana tuh benda,” rupanya saran Udin membuat
Rizky bertingkah seperti Plato. Tangannya
menahan dagu, dan wajahnya mengadah ke
atap.
“Mikir dah sono,” ujar Udin kesal. …
Di lain deretan bangku, Marsha asyik
berbincang riang dengan teman-temannya.
“Marsha, katanya lo mau didatengin sama secret
admirer lo yah, yang dari jogja itu!” ujar Santi.
Wanita yang sangat centil dan tak selaras jika berdandan. Bagaimana tidak? Dengan kebaya
merah dan kain abu-abunya, ia melenggang
penuh percaya diri saat memasuki ruang aula.
“Kayaknya sih begitu,” jawab ujar Marsha
sambil tersipu-sipu.
“Ih, ini, Rizwan memanggil, bentar yah,” hentak Marsha.
“Hallo, Rizwan?”
“Hallo, iyah, sayah Rizhwan,” dengan suara
medhok, kental jawani, Rizwan menjawab.
“Katanya kamu mau dateng nemuin aku hari ini?”
tanya Marsha berharap. “Pastinyah iyah,” jawab Rizwan lagi, dengan
suara lebih kental.
“Hehehehhe,” Santi tertawa keras.
“Wong Jowo, Medhok tenan,” ujar Caroline.
Meski dia wanita blasteran inggris-palembang,
tiruan suara medhoknya berhasil juga. “Eh, sialan luh,” Marsha rupanya kesal.
“Lagian lo loudspeaker,” ujar Santi mengelak.
“Kan niat gua biarin lo tau suara cowo yang
kata si Rizky ganteng,”
“Iye deh,” ujar Caroline dan Santi kompak.
“Eh, apa nih,” Marsha setengah kaget, ketika ia memasukkan telefon gengamnya kembali, ke
dalam tas mininya.
“Mawar merah loh,” ujar Caroline, yang rupanya
ikut kaget.
“Punya siapa Marsha?” tanya Santi. Semua
kawan Marsha menjadi ikut penasaran. “Tunggu, gua inget-inget dulu,” mata Marsha
menerawang atap gedung, tangannya
menggaruk-garuk kepala mencoba mengingat.
“Oh iya!” sambil mengacungkan telunjuk ke arah
atap, Marsha berujar cukup keras, hingga murid,
guru dan tamu-tamu yang sedang mengheningkan cipta tersentak kaget. Sambil
“mesam-mesem” malu, dan menunduk-nundukkan
kepala, Marsha memberitahukan temannya
perihal benda yang didapat.

“Gimana Riz, anda udah inget?” Udin terus mengingatkan Rizky tentang benda itu.
“Mungkin di…” perkataan Rizky terhenti
sejenak. Wanita itu hadir dihadapannya
sekarang.
“Woy bego,”
“Nih mawar lo,” “Kakak gua yang nemuin di deket tembok
belakang, dia ngasih ke gua waktu lo beli tissu,
terus gua masukin ini ke dalem tas,” jabar
Marsha.
“Kok lo tau ini punya gua?” tanya Rizky.
“Yeh blo’on, kan ada nama lo di bunga mawar,” “Udah sekarang noh ada si cewe blasteran,
udah tembak buruan!” ujar Marsha seperti serba
tau.
“Iya nanti gua tembak,” dada Rizky berdegup
keras, wajahnya kembali pucat.
“Bener!!!” “Hampir lo ketauan!” cegat Udin dengan kata.
“Hampir Din!”

“Cie,cie, Carolline, kayaknya hari ini elo mau
ditembak sama si tiang listrik,” ujar Marsha,
yang ketika datang menari-nari girang. “Ngaco lo ah Marsha,”
“Lo tuh yang mau didatengin cowo Jawani,”
“Yeh, masih ngeledek aja,” kilah Marsha
“Lagian lo duluan yang ngaco, dateng-dateng
ngomong gak jelas,”
“Noh lo liat dan denger, Kepsek lagi pidato,” peringat Caroline yang tersipu-sipu marah,
sambil mengacungkan tangannya ke arah depan.
Melihat mereka seperti itu, seperti melihat
perilaku siswa yang memang sudah tak asing.
Mengacuhkan guru, menganggap guru hanya
sebagai orang yang ditakuti di dalam kelas, sebagai pencerita di dalam kelas, yang
menyuburkan kebudayaan bisu, istilah Freire.

“Woy, kawan-kawan, kalian apakah sudah siap?”
ujar Rizky ancang-ancang.
“Si-iap,” teriak Ma’ruf. “Siap!” teriak Udin pelan.
“Sihap!” ujar Joko, sang calon Polisi.
“Kalau begitu, aksi kita jalankan. Dan jangan
ada yang kentut!”
“Loh, kok be-begitu, Riz?” Ma’ruf kebingungan,
maklum, ia tak ikut naik taksi bersama Marsha dan Rizky.
“Udah ga usah dipikirin, Ruf,”
“Udah-udah, tidak usah berdebat, yang penting,
sekarang kalian menempati posisi masing-
masing,” ujar Joko tegas memberi komando.
Meski begitu, tetap saja Ma’ruf garuk-garuk kepala kebingungan.

Sambil mengunyah ayam, lauk makan siang,
Caroline menanyakan sesuatu pada Marsha.
“Marsha, kok lo bisa pecaya kalo si Rizwan itu
ganteng?” “Percaya gak percaya sih,”
“Kenapa lo nanya gitu?”
“Gak, gua bingung aja, kenapa lo terlalu
percaya sama Rizky?”
“Yah, dia kan temen gua dari kecil, dan bahkan
mungkin dari gua masih di perut Ibu gua, makanya gua percaya,” ujar Marsha
memberikan alasan, yang benar atau salahnya
belum diketahui.
“Memang kenapa, calon pacar sahabatku?” balas
Marsha bertanya, yang sedari tadi berbalasan
pesan singkat dengan Rizwan. “Calon pacar, cuman mau tau aja?” Caroline
kebingungan.
“Ya udah, habisin deh makan siangnya,” ujar
Marsha, sambil tersenyum-senyum..

“Hadirin-hadirin sekalian, untuk mengisi kekosongan break siang ini, kita tampilkan Rindu
Band,” sambut MC, mempersilahkan Duo favorite
SMA untuk tampil. Mereka yang cukup popular di
SMA Atap Rubuh 013 itu beranggotakan Udin
dan Ma’ruf.
… “Rizky, mana?” tanya Marsha sambil berdiri
melongok-longok ke arah Rizky, yang berada
tiga kursi di depan Rizky dan kawan-kawan.
Lalu, dengan gaya jalannya yang khas, Marsha
menghampiri Rizky.
“Sebentar lagi dia dateng, tenang aja lo,” “Beneran dia dateng?” tanya Marsha, dengan
nada yang terengah-engah, berdiri di samping
Rizky.
“Semoga,” jawab Rizky enteng
“Kok?” tersentak, badan Marsha tegap,
menghadap Rizky. Rizky hanya acuh, ia tetap menatap panggung yang sedang diramaikan
oleh Rindu Band.
“Gantengkan relative.” Lanjut Rizky
“Jadi kapan dia dateng,” wajah Marsha
memerah, nampaknya ia mulai kesal dengan
pembicaraan itu. Kemudian, Wajahnya dihadapkan tinggi-tinggi ke arah Rizky
“Lo ga sabaran ya, sabar dong!” Rizky
setengah berteriak. Hal itu menjadikan mata
belo Marsha berkaca-kaca, kemudian ia berlari,
menuju ke gerombolan kawannya lagi.
… “I-iya, se-sekarang, ti-tiba, saatnya, ac-cara,
ya-yang di-tung-gu, tunggu, o-leh, ka-kawan
kami,” Ma’ruf, sang gitaris membuka acara “itu”
dengan sangat birokratif, dari segi
pengucapannya.
“Lama banget lo Ruf?” protes Udin setengah berbisik.
“U-dah, lo aja,”
“Sorry nih Ruf, buaknnya gua itpren (eat
friend=makan temen-red),”
“Yah, kawan-kawan, mungkin acara ini tak
sesuai dengan rundown acara wisuda, tapi biarlah ini jadi pengganti lagu Duo Rindu yang
kedua,”
“Huhuhuhuhuh,” sebagian besar siswa berteriak
kecewa.
“Ga oke,” teriak salah satu guru yang berkepala
plontos, yang duduk paling depan, di depan kepala sekolah bahkan.
“Sa-santai aja pak,” bela Ma’ruf.
“Udah Ruf, gak usah lo ladenin guru kayak gitu,”
ujar Udin, mencoba melerai debat mereka.
“Sekarang, saya mohon Rizky untuk naik ke
atas panggung,” Suasana perlahan hening, ketika Rizky
berjalan, lalu naik ke atas panggung. Para
siswa, guru dan orang tua murid hanya bisa
mengarahkan bola matanya ke sosok Rizky
yang nampaknya cukup gagah siang itu.
“Langsung saja, saya serahkan pada Rizky,” “Langsung saja Riz!” Udin mempersilahkan
Rizky untuk berkalimat-kalimat.

“Trimakasih Din, Ruf , juga Joko, meski ia ga
hadir di panggung ini, atas bantuan kalian,”
“Sebenarnya ini adalah sesuatu yang sudah saya simpan demikian lama,”
“Ini merupakan sesuatu yang sangat saya ingin
ungkapkan pada seseorang yang menjadi impian
saya sejak dulu,”
“Iya sejak dulu,”
“Mungkin ini sudah menjadi catatan Dia, ketika kami bertetanggaan,”
“Sewaktu kecil memang saya tidak menyimpan
rasa apa-apa kepadanya, namun seiringnya
waktu, seringnya kami bersama, saling
mengenal, rupanya rasa sayang itu timbul
perlahan,” “Lebih parah lagi, Cinta!”
Suara di Ruang itu kemudian hening. Terlantun,
laguku, karya band Ungu, dari MP3 laptop.
“Iya Cinta,” lanjut Rizky
“Mungkin kedengarannya cukup aneh, apalagi
bagi orang-orang yang telah lama mengenal saya, terutama wanita yang saya akui sebagai
tetangga hati saya itu,” mata Rizky tertuju
pada Marsha.
“Kami selalu saja bertingkah aneh apabila
berdua, lebih-lebih ketika saya jatuh hati
kepadanya,” “Bukan bermaksud sungguh-sungguh, itu saya
lakukan hanya sebagai kamuflase belaka,”
“Kamuflase itu maknanya apaan Ruf?” tanya
Udin berbisik pada Ma’ruf
“Se-sejenis tawon!” jawab Ma’ruf tegas.
“Benar, kamuflase, agar ia tidak tau bahwa saya jatuh hati padanya,”
“Kenapa?”
“Karena saya tau, dia adalah primadona di kelas,
bahkan sekolah,”
“Sampai-sampai, ketua OSIS pun pernah ditolak,
tuh orangnya malu-malu,” kenang Rizky “Huhuhuuhh,” teriak peserta wisuda, terutama
para siswa.
“Maaf ketua OSIS, bukan bermaksud
mempermalukan, tapi sebagai referensi bagi
saya untuk mwncocokkan diri saya sebagai
ketua OSIS,” tegas Rizky, kepada adik kelasnya.
“Referensi apaan Ruf,” kembali Udin bertanya
berbisik pada Ma’ruf.
“Se-sejenis ku-kuman,” jawab Ma’ruf dengan
yakin.
“Benar, saya pasti akan sangat kecewa jika ditolak,”
“Namun, meski begitu, saya, dan kawan-kawan
yang telah membantu saya, mencoba
memberanikan diri untuk menyusun rencana ini,”
“Yang kami sebut, Rencana Besar,” Udin dan
Ma’ruf membelakangi peserta dan Rizky, kemudian tepuk tangan perlahan. Peserta
hanya bisa mendengar, tanpa berkomentar.
“Saya tidak mau terlalu panjang lebar, dan
lama-lama menyimpan perasaan ini. Dan izinkan
saya memberikan sebuah sajak tentang
Marsha, yang saya buat di malam hari, ketikaku mendengarnya bernyanyi dengan piano,
begini,” perlahan, Rizky membuka lembaran
catatan kecilnya

Kupu-kupu tak bersayap seketika itu kembali
terbang Kembali menjelajahi bunga-bunga yang tumbuh
bermekaran
Nektar ia hisap dengan perlahan, suara malaikat
bernyanyi perlahan terdengar
Kupu-kupu itu tak merasa aneh mengapa ia bisa
terbang Padahal setengah nyawanya telah hancur
hilang
Kupu-kupu itu tak merasa aneh kenapa bunga
bisa tumbuh bermekaran
Padahal musim ini musim kerontang, tak disiram,
tak dipupuk Kupu-kupu itu tak merasa aneh kenapa nectar
itu manis
Meski nectar itu dari bunga bangkai
Yang kupu-kupu tau
Kupu-kupu baru mendengar lantunan nyanyian
Nyanyian seorang anak manusia Meski dia bukan Daud membaca Zabur
Namun suaranya juga memberikan warna
kehidupan
Yang aku mau
Aku mau seperti mereka
Seperti Kupu-kupu, Bangkai, Perangkap serangga
Aku Dia hidupkan lagi
Aku mau dengan perantaraan Marsha, Kau
hembuskan lagi, nafas kehidupan itu…
Diiringi suara tepuk tangan peserta wisuda, dan
tetesan air mata Rizky, Udin mempersilahkan Marsha untuk maju, naik ke atas panggung.
Kemudian, Marsha melenggang ragu ke depan,
para peserta wisuda perlahan menoleh ke arah
Marsha.
“Ini,” Rizky mengeluarkan mawar merah yang
telah layu dari kantong jasnya, kemudian ia berikan kepada Marsha yang telah berdiri
berhadap-hadapan.
Namun, tak seketika Marsha mengambil mawar
putih itu. Melainkan merampas pengeras suara
dari tangan kiri Rizky, yang ditaruh di belakang.
“Woy, lo ngeboongin gue yah,” ujar Marsha dengan pengeras suara itu.
“Katanya ada cowo Jogja mau nemuin gue,
tau-taunya cowo jogja itu elo?”
“Maaf Marsha,” Rizky berusaha menggapai
tangan Marsha.
“Ngga, gua gak bakalan maafin lo, lo bukan sahabat gua lagi,” Marsha mundur, turun dari
panggung.
Sambil berteriak Marsha berujar
“Dan satu lo yang patut tau, gua udah punya
pacar, Joko pacar gua!”
Mata Rizky membelalak, tak lama, Joko datang dari arah pintu masuk, di samping kiri panggung.
“Apa-apaan lo Rizky, gua denger semuanya!”
“Sajak lo katro, lo ga tau, dia udah jadian sama
gua!” bentak Joko
Rizky terdiam, sepertinya hari itu bukan hari
baiknya. Namun diam itu kembali senyum, ketika Marsha kembali menghampiri Rizky.
“Tpukkk,” Marsha menampar wajah Rizky.
Tamparan itu membuar Rizky merunduk, tak
bersuara.
“Udah lo terima aja nasib lo, Riz,” Joko mencoba
memberikan nasihat, yang nampaknya lebih condong ke ejekan.
“Si-a-lan, lo Jo-ko,” Ma’ruf maju menghampiri
Joko.
“Dia pacar gua Ruf, lo jangan ikut campur,”
Meski begitu, Rizky tetap diam, tak bersuara.
Kakinya bergemetar, keningnya keluar peluh dingin, ak berarti. Tak ada suara di gedung itu,
semua terhipnotis drama cinta.
“Sudah-sudah, kok jadi berantem” Marsha
melerai mereka.
“Riz, sekarang lo udah tau kan, siapa yang jadi
pacar gua sekarang,” ujar Marsha. “Riz, kok jadi runyam yah?” bisik Udin kepada
Rizky, di dekat kupingnya.
“Tapi, Marsha, gua bener-bener cinta sama lu,”
ujar Rizky gemetar.
“Gua sayang sama lo, meskipun gua tau, image
gua udah ga bagus sama lo, ini gua lakuin untuk merubah itu semua,”
“Gua inget pesan lo dalem taksi, dan mohon
maafin gua,”
“Tapi pa boleh buat, kalo…” perkataan Rizky
terhenti, ternyata itu Joko, yang
menimpalinya. “Udah jangan banyak omong dah, lo itu
pembohong, jadilah pembohong, jangan sok
jujur, udah tau Marsha pacar gua, udah terima
aja,”
Rupanya, perkataan Joko itu memperlemah
semangat Rizky. Kemudian ia meneteskan penyesalan, turun dari atas panggung.
Jalannya begitu lunglai, layaknya kupu-kupu
tak bersayap.
“Yah, cowo kayak gitu mau jadi pacar gua,”
teriak Marsha
“Cengeng!” “Lo ga kaya Rizky yang gua kenal, yang tegar,
yang periang, yang cukup bijaksana juga sih
meurut gua,” ujar Marsha sedikit tersipu.
“Cemen lo Riz,” tambah Udin, menimpali Marsha.
“Din lo khianatin gua?” kemudian Rizky berbalik,
dengan mata yang sedikt berkaca-kaca. “I-iya, gu-gua, gak mau, ber-te-teman sa-sama
elo,” Ma’ruf menambahkan.
Rizky tetap menatap ke arah panggung, hancur
semua yang diharapkan. Dibelakangnya,
peserta wisuda juga seperti enggan menatap
Rizky. “Lo liat kan, gak ada lagi yang respect sama lo,
karena tingkah lo yang norak itu,” Joko
menimpali dengan merangkul Marsha.
“Kurang ajar kalian semua!” Rizky amat marah.
Ia menghampiri Joko. Kemudian, ia
mengayunkan tangan ke wajah Joko. Namun, tiba-tiba, ketiga orang itu menghalanginya.
“Co-coba,” ujar Ma’ruf.
“Coba,” ujar Udin
“Coba,” ujar Marsha. Rupanya ucapan
perkataan “coba” yang terakhirnya itu
menghentikan laju darah Rizky ke otak. “Sudah. Sekarang kalian mau apa?” ujar Rizky
pasrah.
Suasana tetap hening. Peserta wisuda yang
jumlahnya hampir dua ratus orang itu pun ening,
menanti kelanjutan kisah mereka.
… “Mau apa?” ujar Marsha setengah berteriak.
“Ma-mau, a-apa, yah?” timpal Ma’ruf
“Mau?” ujar Joko dan Udin bersamaan.
“Kalian mau apa?” ujar Rizky membentak.
“Kami mau minta maaf,” ujar Marsha mewakili
temannya. “Minta maaf untuk apa?” ujar Rizky, yang kini
nada suaranya mulai turun.
“I-iya, ma-maaf,” tambah Ma’ruf.
“Untuk apa?” tiba-tiba, amarah Rizky kembali
bergejolak, melihat Joko yang merangkul
Marsha. “Sudah Joko, hampir selesai nih,”hindar Marsha.
“Maaf,” ujar Joko, sambil melepaskan
rangkulannya.
Marsha menghampiri Rizky, sambil mengarahkan
mulutnya ke telinga Rizky, kemudian berbisik.
“Maaf untuk semua.” “Marsha cinta Rizky.”
Ketiga kawanan itu bersorak. Diselingi
beberapa detik, peserta wisuda pun ikut
bertepuk tangan. Kecuali guru yang berkepala
plontos, yang nampaknya terbangun, kaget.
“Makanya jadi orang jangan jail sama gue,” kata Marsha kembali normal.
“Makanya, jangan sok cool di sekolah,” ujar
Joko. Pernyataan yang ditimpali Ma’ruf dan
Udin.
“Jadi…” tanya Rizky.
“Iya, ini semua rencana besar kami,” ujar Joko. “Riz, aku bukan cewe bego, masa aku percaya-
percaya aja sama kamu, ada cowok jogja
ganteng yang mau kenal sama aku,” Marsha
buka rahasia.
“Dan yang terakhir kali si “Rizwan” nelepon
gua, udah gua hafal suara lo yang rada cadel,” dengan senyum kemenangan, Marsha
menyingkap setiap tabir.
“E-emang, enak,” ujar Ma’ruf setengah
tertawa.
“Sabar kawan,” Joko dan Udin bersamaan
menepuk tengkuk Rizky. “Berarti, Marsha jadi pacar gua, dan Joko,
Maruf dan Udin tetap temen gua?” mata Rizky
menerawang jauh ke arah peserta wisuda yang
ikut gembira akan kisah yang Rizky dan
kawannya torehkan. Riuh tinggi mereka
berbincang-bincang. “Betul sekali anda,” ujar Marsha, Udin, Joko,
bersamaan, kecuali Ma’ruf yang sedang
membulat-bulatkan kertas brosur bimbingan
belajar.
Tiba-tiba
“Tpakk,” “Sialan siapa nih?” Pak Plontos berteriak kesal,
sambil megucek-ngucek mata, Ia mencari-cari
asal muasal batu kertas itu.
“A-ayo, ki-kita, kabur,” Ma’ruf lebih dahulu
melaju kencang, diikuti teman-temannya. Dan
tentunya Rizky dan Marsha yang bersamaan, seperti biasa.
Kali ini yang erkejar-kejaran bukan hanya
Rizky dan Marsha, juga Udin Ma’ruf, Joko,
ditambah pak plontos, guru cerdas.
Para peserta wisuda riuh tinggi melihat mereka
berkejar-kejaran, ada yang saling ledek, ada yang salin pukul, juga ada yang tertidur.
“Eh Marsha, lo tau apa arti Rizwan?” tanya
Rizky, sambil menaiki bangku, mengindari
kejaran Plontos.
“Kaga,”
“Rizky Kurniawan, hahaha,” “Sialan lo, Riz,” jawab Marsha yang terlihat
lincah menyelinap diantara Rizky dan Udin.
“Oh, iya, satu lagi, kita pacaran tujunnya apa
nih?”. Marsha yang ikut lari di belakangnya
berteriak.
“Tujuan kita mencari RidhoNya!” “Hah, kena lo,” sial bagi Ma’ruf, yang tertangkap
kejaran pak Plontos. Tamat…

“Arti Persahabatan”

Misha sinkap kembali tabir ingatannya. Sharon. Manis nama itu, semanis orangnya. Dialah kawan karib Misha yang selalu diingatannya. Sudah enam tahun mereka mengenali antara satu sama lain. Kegembiraan dan keperitan hidup di alam remaja mereka melalui bersama. Tetapi semua itu hanya tinggal kenangan sahaja. Misha kehilangan seorang sahabat yang
tidak ada kalang-gantinya. Peristiwa itu berlaku dua tahun yang lalu. Sewaktu itu mereka sedang berada di kantin sekolah. Misha sedang marahkan Sharon kerana mengambil pena kesukaannya tanpa izinya dan menghilangkannya. Apabila Misha bertanya, dia hanya berkata yang dia akan menggantikannya. Misha tidak mahu dia menggantikannya. Kerana pena yang hilangtu berlainan dengan pena yang akan diganti oleh Sharon. Pena yang hilang itu adalah hadiah daripada Sharon sewaktu mereka pertama kali menjadi sepasang kawan karib. “Aku tak mahu kau menggantikannya! Pena yang hilangtu berharga bagiku! Misha memarahi Sharon.” ” Selagi kau tak jumpa penatu, selagi itulah aku tak akan bercakap dengan kau!” Marahnya Misha pada Sharon. Meja kantintu di hentaknya dengan kuat hingga terkejut Sharon. Misha yang mukanya memang kemerah- merahan, bila marah bertambahlah merahlah mukanya. Sharon dengan keadaan sedih dan terkejut hanya berdiamkan diri lalu beredar dari situ. Misha tahu Sharon berasa sedih mendengar kata-katanya itu. Misha tidak berniat hendak melukainya tetapi waktu itu dia terlalu marah dan tanpa dia sedari, mutiara jernih membasahi pipinya. “Sudah beberapa hari Sharon tidak datang ke sekolah. Aku merasa risau. Adakah dia sakit? Apa yang terjadi” Berkata-kata Misha seorang diri. Benak fikirannya diganggu oleh seribu satu pertanyaan “EH! Aku nak pergi kerumahnyalah” Berbisik Misha di hatinya. Tetapi niatnya berhenti di situ. Dia merasa segan. Tiba-tiba talipon dirumah Misha berbunyi “Ring,riiiiiiiing,riiiiiiiiing,riiiiiiiing”Ibu Misha yang menjawab panggilan itu.”Misha, oh, Misha “Teriak ibunya. “Cepat, salin baju. Kita pergi rumah Sharon ada sesuatu berlaku. Kakaknya Sharon talipon suruh kita pergi rumahnya sekarang jugak” Suara ibu Misha tergesa-gesa menyuruh anak daranya cepat bersiap. Tiba- tiba jantung Misha bergerak laju. Tak pernah dia merasa begitu. Dia rasa tak sedap. Ini mesti ada sesuatu buruk yg berlaku. “Ya Allah, kau tenteramkanlah hatiku. Apapun yang berlaku aku tahu ini semua ujianmu. Ku mohon jauhilah segala perkara yang tak baik berlaku. kau selamatkanlah sahabatku.” Berdoa Misha pada Allah sepanjang perjalanannya ke rumah Sharon. Apabila tiba di sana, rumahnya dipenuhi dengan sanak -saudaranya. Misha terus menuju ke ibu Sharon dan bersalaman dengan ibunya dan bertanya apa sebenarnya yang telah berlaku. Ibunya dengan nada sedih memberitahu Misha yang Sharon dilanggar lori sewaktu menyeberang jalan berdekatan dengan sekolahnya.” Dia memang tidak sihat tapi dia berdegil nak ke sekolah. Katanya nak jumpa engkau. Tapi hajatnya tak sampai. Sampai di saat dia menghembuskan nafasnya, kakaknya yang ada disisinya ternampak sampul surat masa ada dia gengam ditangannya” terisak-isak suara ibu Sharon menceritakan pada Misha sambil menghulurkan surat yang Sharon beriya-
iya sangat ingin memberikannya pada sahabatnya. Didalam sampul surat itu terdapat pena kesukaanku. Disitu juga terdapat notadaripadnya. MISHA SHARMIN,
AKU MINTA MAAAF KERANA MEMBUAT KAU MARAH KERANA TELAH MENGHILANGKAN PENA KESUKAANMU. SELEPAS ENGKAU MEMARAHI AKU, AKU PULANG DARI SEKOLAH SEWAKTU HUJAN LEBAT KERANA INGIN MENCARI PENAMU.DI RUMAH AKU TAK JUMPA.TAPI AKU TAK PUTUS ASA DAN CUBA MENGINGATINYA DAN AKU TERINGAT, PENATU ADA DI MEJA SCIENCE LAB . ITUPUN AGAK LAMBAT AKU INGIN KESEKOLAH KERANA BADANKU TAK SIHAT TAPI DENGAN BANTUAN SITI DIA TOLONG CARIKAN. PENATU SITI JUMPA DIBAWAH MEJAMU. TERIMA KASIH KERANA TELAH MENGHARGAI PEMBERIANKU DAN PERSAHABATAN YANG TERJALIN SELAMA SETAHUN. TERIMA KASIH SEKALI LAGI KERANA SELAMA INI MENGAJARKU TENTENG ERTI PERSAHABATAN. SHARON OSMAN. Kolam mata Misha dipenuhi mutiara jernih yang akhirnya jatuh berlinangan dengan derasnya.Kalau boleh ingin dia meraung sekuat hatinya. Ingin dia memeluk tubuh Sharon dan memohon maaf padanya tapi apakan daya semuanya dah terlambat. Mayat Sharon masih di hospital. Tiba-tiba dentuman guruh mengejutkan Misha daripada lamunan. Barulah dia sedar bahawa dia hanya mengenangkan kisah silam. Persahabatan mereka lebih berharga daripada pena itu. Misha benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Dia berjanji tak akan membenarkan peristiwa ini berulang kembali. Semenjak itu Misha rajin bersolat dan selesai solat dia akan membaca al quran dan berdoa dan bersedekahkan ayat-ayat al quran kepada sahabatnya. Dengan cara ini sahajalah yang dapat Misha balas balik jasanya Sharon dan mengeratkan persahabatanya. Semoga dengan kalam Allah Sharon akan bahagia di alam baza.
——-***——-

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.